Lawan Kabut Asap, Imigrasi Pontianak Turun ke Jalan Bagikan 1.700 Masker untuk masyarakat

PONTIANAK — sinarraya.co.id

Kabut asap kembali menyelimuti langit Pontianak dan Kubu Raya. Bagi sebagian orang, kondisi ini menjadi alasan untuk tetap berada di rumah. Namun bagi mereka yang mencari nafkah di jalanan, berhenti bekerja bukanlah pilihan.

Ojek online tetap menerima pesanan. Pedagang kaki lima tetap menunggu pembeli. Kurir, pengemudi, hingga pekerja harian tetap menghirup udara yang kualitasnya terus memburuk demi membawa pulang penghasilan untuk keluarga.

Melihat kondisi tersebut, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak memilih tidak hanya menyaksikan dari balik kantor. Pada Jumat (14/8/2026), jajaran Imigrasi Pontianak turun langsung ke kawasan Bundaran Tugu Digulis, Pontianak, membagikan 1.700 masker kepada para pengendara dan masyarakat yang melintas.

Tak sekadar masker, petugas juga menyerahkan paket sederhana berisi air mineral, makanan ringan, dan permen sebagai bentuk kepedulian kepada warga yang tetap harus beraktivitas di tengah kabut asap.

Aksi ini dilakukan ketika kualitas udara di Pontianak dan Kubu Raya terus menurun akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah sekitar. Berdasarkan data IQAir pada 14 Agustus 2026 pukul 11.36 WIB, indeks kualitas udara (AQI-US) untuk parameter PM2.5 mencapai 207, masuk kategori sangat tidak sehat.

Di balik angka tersebut, ada ribuan warga yang tidak memiliki kemewahan untuk menghentikan aktivitasnya. Mereka tetap berada di jalan, menghadapi paparan asap demi memenuhi kebutuhan hidup.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Sam Fernando, mengatakan kehadiran Imigrasi di tengah masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sosial pemerintah.

«”Banyak masyarakat yang tetap harus bekerja dan beraktivitas di luar rumah. Kami ingin hadir memberikan perhatian dan perlindungan sederhana bagi mereka, terutama dalam kondisi kualitas udara seperti sekarang,” ujarnya.»

Menurutnya, pelayanan publik bukan hanya soal penerbitan paspor atau dokumen keimigrasian. Di saat masyarakat menghadapi situasi sulit, kehadiran pemerintah juga diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat langsung.

Mungkin 1.700 masker tidak mampu menghilangkan kabut asap. Mungkin pula aksi sederhana ini tidak dapat menghentikan kebakaran lahan yang menjadi penyebabnya. Namun bagi seorang pengemudi yang harus terus mengaspal, seorang pedagang yang tetap menunggu pembeli, atau pekerja yang seharian berada di bawah langit penuh asap, sehelai masker bisa menjadi perlindungan yang berarti.

Di persimpangan Bundaran Tugu Digulis, kendaraan terus melaju dan kehidupan tetap berjalan. Di tengah kabut yang membatasi pandangan, ada satu hal yang tetap terlihat jelas: kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar, tetapi selalu bermakna ketika datang pada saat yang paling dibutuhkan.(*/zainul irwansyah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *