Jakarta – sinarraya.co.id
PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar) terus memperkuat implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi utama dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan tersebut menjadi strategi perusahaan untuk meningkatkan daya saing sekaligus menghadapi berbagai tantangan industri perbankan di era transformasi digital.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Kepatuhan Bank Kalbar, R.S.M. Al Al Amin, B.A., saat presentasi dan wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 yang digelar di Jakarta, baru-baru ini.
“Secara umum sebagaimana perbankan pada umumnya, Bank Kalbar juga menghadapi berbagai tantangan dan isu strategis yang terus berkembang. Berbagai tantangan tersebut antara lain percepatan transformasi digital, dinamika regulasi, peningkatan risiko siber, menjaga kualitas aset, serta penguatan tata kelola. Menyikapi hal tersebut, implementasi GRC sebagai instrumen penting dalam tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan terus kami perkuat sebagai bagian dari strategi mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Al Amin.
Menurutnya, implementasi GRC di Bank Kalbar kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan telah menjadi business enabler yang mendukung pengambilan keputusan bisnis secara prudent, adaptif, dan berkelanjutan.
“Penerapan GRC menjadi fondasi strategis yang memastikan tata kelola berjalan baik, pengelolaan risiko dilakukan secara terukur, serta kepatuhan terhadap regulasi tetap terjaga. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara sehat dan berkesinambungan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Al Amin didampingi Kepala Divisi Kepatuhan Hilyati Dwiana, Kepala Divisi Manajemen Risiko Melannia Erni Irawati, Kepala Bidang Divisi Kepatuhan Faizal, Senior Analis Divisi Manajemen Risiko Achmad Gandi, Kepala Bidang Humas Divisi Corporate Secretary Azmi Haqqi, serta Kepala Cabang Bank Kalbar Jakarta.
Kinerja Positif Didukung Penguatan GRC
Al Amin mengungkapkan, implementasi GRC yang konsisten turut menopang kinerja positif Bank Kalbar sepanjang 2025. Perseroan berhasil membukukan total aset sebesar Rp27,68 triliun, menghimpun dana pihak ketiga (DPK) Rp21,11 triliun, menyalurkan kredit sebesar Rp18,07 triliun, serta mencatatkan laba bersih mencapai Rp511,14 miliar.
Selain itu, Bank Kalbar juga mampu mempertahankan Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank (TKB) 2 atau Sehat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 36,97 persen, yang mencerminkan kondisi permodalan perusahaan tetap kuat.
Untuk memastikan tata kelola perusahaan berjalan efektif, Bank Kalbar menerapkan Governance Model yang mengintegrasikan struktur organisasi, komite-komite strategis, pembagian peran melalui Three Lines Model, serta pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris.
Dalam model tersebut, unit bisnis bertindak sebagai risk owner, sementara Divisi Manajemen Risiko dan Divisi Kepatuhan menjalankan fungsi lini kedua. Adapun Divisi Audit Intern berperan sebagai lini ketiga yang memberikan pengawasan independen terhadap efektivitas pengendalian internal.
Delapan Risiko Dikelola Secara Terukur
Di bidang manajemen risiko, Bank Kalbar mengelola delapan jenis risiko utama perbankan, yakni risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, stratejik, kepatuhan, dan reputasi. Seluruh risiko tersebut berhasil dipertahankan pada kategori Low to Moderate sepanjang 2025.
“Direksi juga secara rutin memonitor berbagai Key Risk Indicator setiap bulan, mulai dari kualitas kredit, likuiditas, transaksi operasional hingga keamanan sistem teknologi informasi. Langkah ini dilakukan agar potensi risiko dapat diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini,” jelas Al Amin.(*/zainul irwansyah).
