Ketapang Kalimantan Barat, Rabu, 8 Juli 2026- sinarraya.co.id
Ketapang bergerak. Udara Kalimantan Barat bergejolak. Nama M. Nazar Syahputra mendadak merebak liar di jagat maya. Pria asal Bandung ini baru sepekan menempelkan keringat di proyek PT BAP, Desa Pagar Mentimun, Kecamatan Matan Hilir Selatan.
Nasib nahas menghantam tubuhnya. Ia roboh dan terbaring lemah di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Publik pun sontak menyatukan simpati, mengira seorang buruh sebatang kara telantar tanpa uluran tangan korporasi.
Linimasa sosial media membara. Tuntutan agar PT BAP bertanggung jawab membombardir ruang digital. Nazar, tanpa ia sadari, menjelma ikon perlawanan kelas pekerja. Isu pengabaian kemanusiaan nyaris meledak menjadi bola liar.
Namun, persepsi publik itu tak berlangsung kekal. Di titik nadir ketegangan, jalur diplomasi dibuka lebar. Pihak perusahaan menanggalkan ego sektoral, memilih merangkul ketimbang baku hantam argumen.
Puncaknya terjadi pada Selasa, 8 Juli 2026. Sebuah meja musyawarah menjadi saksi bisu cairnya ketegangan. Perusahaan dan keluarga buruh saling tatap muka, menjahit koyaknya kepercayaan.
Dede, Penanggung Jawab Lapangan PT BAP, menginisiasi pendekatan humanis. “Kami berkomunikasi intens. Alhamdulillah, melalui musyawarah dan komunikasi baik, perkara ini tuntas secara kekeluargaan. Seluruh tanggung jawab kami lunasi sesuai kesepakatan,” tegasnya. Suara hati terbukti lebih lantang dibanding riuhnya teks media sosial.
Insiden ini bukan sekadar kasus yang berlalu usai klaim selesai. Pahitnya sorotan publik menjelma bahan bakar evaluasi tata kelola pekerja di PT BAP.
Dede menambahkan, apresiasi setinggi-tingginya ia sampaikan pada elemen peduli. Sorotan tajam masyarakat sipil direspons lapang dada. Standar operasional prosedur penanganan pekerja sakit tak boleh bertele-tele. Ke depan, respons cepat dan ketangkasan koordinasi menjadi harga mati korporasi.
Dari sisi M. Nazar, babak kelam di tanah rantau resmi ditutup penuh lega. Ia membenarkan perusahaan telah menemui dan melunasi seluruh kewajiban tanpa secuil luka tersisa.
“Alhamdulillah, semuanya selesai baik-baik. Terima kasih untuk perusahaan, tenaga kesehatan, dan rekan jurnalis. Saya kini bisa pulang ke Bandung dengan tenang,” tutur Nazar.
Episode proyek PT BAP pun sirna tanpa menyisakan residu konflik. Kedua pihak saling menggenggam erat, mengedepankan nilai kemanusiaan di atas kepentingan material. Publik kembali diingatkan, musyawarah mufakat tetap mahkota penyelesaian sengketa di republik ini.
Keberhasilan mediasi tak lepas dari peran signifikan Paguyuban Pasundan Ketapang.
Organisasi kemasyarakatan ini menjembatani komunikasi dan negosiasi. Pendekatan persuasif mereka meredam panasnya tensi industrial.
Kesepakatan damai ini diharapkan menciptakan hubungan harmonis serta kondusif ke depan.
Penyelesaian ini menjadi contoh nyata bahwa dialog kekeluargaan merupakan solusi terbaik bagi perselisihan antara pemodal dan pekerja.(*/tim).












